Saturday, August 22, 2026

Menguji Tuah AI di Pasar Modal: Antara Mitos "Pemuda Triliuner", Keyakinan, dan Realita

Hari ini, 22 Agustus 2026, saya menandai sebuah langkah baru di blog ini (http://bambang.blogspot.com). Bulan ini bukan sekadar pergantian kalender biasa bagi saya, melainkan titik awal sebuah eksperimen pribadi: menggabungkan keyakinan, logika, dan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam mengambil keputusan investasi saham.

Pertanyaannya sederhana namun menantang: Apakah benar teknologi ini bisa menjadi katalis kesuksesan, apalagi untuk menembus kebebasan finansial dengan modal awal ratusan juta rupiah?

Realita vs. Gimik Finansial di Era Digital

Belakangan ini, media sosial dan podcast finansial dipenuhi oleh narasi yang (jujur saja) kadang membuat dahi berkerut. Kita sering disuguhi cerita anak muda usia 20-an yang mengaku sukses mencetak portofolio ratusan miliar hingga triliunan. Lebih fantastis lagi, ada yang berani mengklaim bermodalkan hanya Rp 2 juta atau Rp 500 juta, dan tiba-tiba portofolionya menembus angka di atas Rp 500 miliar.

Sebagai orang yang lebih rasional, saya tentu skeptis. Pertanyaan yang selalu muncul di kepala saya: Apakah ini murni kejeniusan berinvestasi, atau sekadar gimik pemasaran?

Faktanya, banyak dari mereka yang akhirnya berujung "jualan kelas", menawarkan sistem trading, atau ternyata—meski jarang diakui—memang sudah memiliki privilege dan modal cadangan tak terbatas dari keluarga sejak kecil. Kesuksesan instan tanpa fundamental yang jelas sering kali hanyalah ilusi yang dibingkai rapi di depan kamera.

Langkah Rasional: Modal Ratusan Juta dan Bantuan AI

Berbeda dengan klaim bombastis di luar sana, saya memilih jalur yang lebih menapak bumi. Langkah pertama yang saya lakukan adalah menempatkan modal ratusan juta rupiah yang saya miliki ke dalam pasar saham, tentu dengan memilih saham-saham perusahaan berfundamental kuat seperti blue-chip di sektor perbankan, bukan saham "gorengan" yang menjanjikan kaya semalam.

Langkah kedua, dan ini yang paling menarik: Saya mulai mengajak AI berdiskusi sebagai "rekan" investasi.

Bagaimana cara kerjanya?

  • Analisis Data, Bukan Emosi: Saya menggunakan AI untuk menganalisis tren, membaca laporan keuangan, dan membedah sentimen pasar yang sering kali terlewat oleh mata manusia.

  • Menyaring Kebisingan Pasar: Di tengah gempuran berita dan rumor (FUD/FOMO), AI membantu memberikan perspektif yang lebih netral.

  • Kesadaran akan Keterbatasan: Apakah AI 100% selalu benar? Tentu tidak. AI sendiri selalu memberikan disclaimer bahwa prediksinya bisa salah dan bukan merupakan saran keuangan absolut. Oleh karena itu, keputusan final berupa tombol buy atau sell tetap berada di tangan dan keyakinan saya sendiri.

Persimpangan Antara AI, Keyakinan, dan Kesuksesan

Bulan Agustus ini adalah garis start. Penggabungan antara modal riil, keyakinan pada proses, dan instrumen AI adalah cara saya merumuskan formula baru dalam berinvestasi. Saya tidak menargetkan sulap modal ratusan juta menjadi setengah triliun dalam semalam seperti dongeng podcast masa kini. Yang saya cari adalah pertumbuhan yang konsisten, terukur, dan masuk akal.

Eksperimen ini akan terus saya rekam jejaknya di blog ini. Mari kita lihat, ke mana kolaborasi antara manusia dan mesin ini akan membawa portofolio saya di masa depan.

Thursday, January 01, 2026

Happy new year

Happy New Year 2026

Saturday, July 19, 2025

My big boy

Tahun 2024 adalah tahun pengharapan Kevin, my big boy, yang beranjak kelas 3 SMA dan tahun ini pula Kevin punya SIM A dan C. Pembuatan SIM juga kayak ajaib karena bermodal KK aja namun berkat kebaikan seorang kawan Perwira Polisi menjadikan segala urusan sangat terbantu.

Tahun tersebut juga pengharapan Kevin karena harus berjibaku les tambahan dan memang dia masuk siswa eligible yang potensi diterima PTN tanpa tes alias program SNBP (Seleksi Nasional Berbasis Prestasi). Di tahun tersebut Kevin sudah mendapatkan Golden Ticket masuk Universitas Telkom Bandung tanpa tes karena dapat juara lomba Kimia di kampus tersebut. Setidaknya sudah ada kampus yang mau tampung dia.

Kevin terlihat semangat karena pihak sekolah juga state dia masuk 10 besar peraih nilai tertinggi. Namun hasil pengumuman SNBP gagal ke ITB hahaha.

Masih banyak jalan menuju Roma katanya. Akhirnya tiap Sabtu Minggu ambil les tambahan di Jakarta, sebagai bapaknya tentu dengan senang hati siap jadi sopir antar jemput.

Akhirnya ikut SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) dan Kevin pilih lokasi di Universitas Singaperbangsa Karawang. Hari yang ditunggu pun tiba, saya juga antar sejak pagi banget. Selesai ujian masuk, wajahnya sedih memberi laporan kalau komputer yang dia gunakan beberapa kali restart menjadikan pesimis karena waktu nya banyak tersita. Saat saya tanya berapa persen bisa jawab benar, dia hanya mengatakan yang dikerjakan yakin benar namun terganggu sama beberapa kali restart nya komputer. Akhirnya sebagai orang tua, saya hibur dia jikalau dia memang dikasih jalan oleh Tuhan masuk ITB ya pasti lulus.

Oh ya, saat SNBP dia pilih hanya 1 jurusan yaitu ITB Teknik Kimia. Demikian juga saat SNBT, 1 jurusan juga tanpa pilihan ke-2.

Pengumuman pun tiba, skor UTBK / SNBT hanya 700 saja dan ITB pun tidak membuka pintu.

Pasti kecewa karena banyak teman2nya diterima di UI Undip Udayana dll namun teman2nya saya lihat tetap memberi semangat ke Kevin.

Akhirnya coba lagi, ujian mandiri dan tetap 1 jurusan FTISP Teknik Kimia ITB. Ujian sistem online pun ditempuh, dan kali ini gagal juga. Kali ini Kevin terlihat sedih banget, apalagi sebagai orang tua nya pun ikut sedih karena saya tak ijinkan dia ambil IUP ITB. Bukan tidak ada uang nya, namun saya tahu Kevin yang jarang bicara pakai bahasa Inggris di rumah kayaknya akan membebani dia jika ikut IUP.

Ada program dari UI namanya jalur PPKB (Prestasi & Pemerataan Kesempatan Belajar) yg menurut perhitungan nilai rapor dan prestasi seharusnya Kevin bisa dapat, namun ada calon mahasiswa yang sudah diterima PTN jalur test tetap ikut program PPKB dan alhasil dia yang mendapatkannya. Cuma bisa menggerutu karena janji gurunya yg sudah dapat PTN tidak boleh daftar, namun tetap diajukan oleh sekolahnya alias tidak ada konsistensi sekolah, demikian juga seleksi UI seharusnya menanyakan apakah pendaftar PPKB sudah dinyatakan diterima PTN dengan jalur apapun. Nah jika ada pertanyaan ini saat pendaftaran, saya yakin maksud pemerataan akan tercapai dan UI pun tetap sebagai kampus yang selektif dan tidak bisa disebut kecolongan krn istilah pemerataan tentu buat yang belum dapat PTN. Sama saja logikanya mau pemerataan supaya orang tidak miskin, masa orang kaya ikut serta?

Sistem penerimaan mahasiswa tahun ini memang banyak cara atau pintu. Akhirnya dia daftar Teknik Kimia Universitas Brawijaya Malang via jalur rapor dan skor SNBT. Skip skip done proses nunggu pengumuman.

Kevin sambil menunggu hasil jalur rapor UB, dia akhirnya daftar ikut jalur tes kampus lainnya secara ITB sudah membuatnya patah semangat sehingga dia daftar ujian UI, Undip, ITS dan UGM.

Ujian UI online pun selesai hasilnya gagal, tapi denger-denger ada di luar sana anak yang tidak pintar bisa lolos UI. Demikian juga kampus2 lainnya yang mengadakan ujian online, dunia sosmed penuh berita adanya kecurangan yang memanfaatkan teknologi pintar dalam menjawab soal ujian.

Beberapa hasil tes sudah diumumkan, Kevin yang mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi di luar sana adanya kecolongan sistem ujian online, mengatakan tidak percaya lagi ujian PTN tersebut.

Bagaimana tidak kecewa karena setiap hari belajar dan mengulang latihan soal-soal selama 8 jam per hari, harapan mendapatkan kampus pilihan nya gagal.

Namun 2 minggu lalu, salah satu kampus di Malang mengatakan Kevin diterima di Teknik Kimia UB dan juga Undip Semarang. Namun dasar anak gen Z yang rada2 stuborn, dia tetap berharap dapat ITS.

Alhasil pintu masuk Undip dan Unibraw pun ditinggalkan karena ITS juga menerima dia di Teknik Kimia.

Puji Tuhan deh akhirnya. 

Kevin saat dijemput kawan2 seangkatan yang diterima di ITB untuk main bareng tapi berasal dari sekolah lain, Kevin bilang ya gak papa gak di ITB, khan sama-sama ada IT nya, yang satu ITB satunya ITS.

Mungkin ada yang tidak percaya, apakah benar kecurangan bisa bantu lolos masuk ITB atau UI atau kampus lain nya yang menggunakan sistem ujian online?

Nah, saya coba minta contoh soal2 yang Kevin dapatkan saat les sebelumnya. Saya pakai aplikasi AI, gak sebut merek ya krn bukan mau endorse, alhasil soal yang rumit sekali, hanya butuh hitungan detik bisa terpecahkan.

Akhirnya saya iseng, baca hasil laboratorium kesehatan menggunakan aplikasi ini. Hasilnya luar biasa. Jawaban nya sama persis yang dibilang oleh dokternya. Jadi curiga nih, jangan2 banyak dokter gadungan yang sempat heboh itu juga pakai aplikasi ini?

Wallahualam 






Thursday, April 03, 2025

Penetapan PB PHK di Pengadilan Hubungan Industrial Jakarta & Bandung

Buat yang mau mendaftarkan PB PHK sesuai ketentuan Pasal 7 ayat 3 UU No. 2 / 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) maka perlu diperhatikan di bawah ini: 

PHI Jakarta: 

1. Surat Kuasa Asli
2. Surat permohonan Asli dan foto kopi (fotokopi kelak dijadikan sebagai tanda terima karena akan diberi stempel oleh PHI) 
3. Perjanjian Bersama Asli dan foto kopi yang sudah dilegalisir di Kantor Pos, siapkan meterai 10rb di bagian akhir dan minta cap Kantor Pos 
4. Copy risalah bipartit / MOM 
5. Bukti transfer pembayaran pesangon
6. Copy Anggaran Dasar Perusahaan 
7. Copy Anggaran Perubahan 

  PHI Bandung: 

1. Surat Kuasa Asli 
2. Surat permohonan Asli 
3. Perjanjian Bersama Asli 2 rangkap --> bedanya di PHI Jakarta minta copy tapi di-legalisir 
4. Copy risalah bipartit / MOM 
5. Bukti transfer pembayaran pesangon 
6. Copy Anggaran Dasar Perusahaan 
7. Copy Anggaran Perubahan 

Dengan asumsi semua dokumen benar, maka membutuhkan proses selama 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) hari kerja untuk menerima akta penepatan. 

Sebagai contoh, kita datang menyerahkan permohonan di Hari Senin pagi, maka akan diproses Senin, Selasa, Rabu dan hari Rabu atau Kamis akan dipanggil untuk tanda tangan di akta penetapan sebelum diserahkan ke Perusahaan atau kita yang mewakili. 

Jadi Senin - Rabu = 3 hari, atau Senin - Kamis = 4 hari. 

Kadang pernah akta PB PHK di PHI Jakarta selesai lebih dari 5 (lima) hari dikarenakan ada verifikasi dokumen yang diminta oleh pihak PHI. Nah yang ini ribet, bolak-balik. 

Gak tahu mereka kalo saya tinggalnya jauh dari PHI Jakarta hehehe....

 Tampak agak sepi, tapi masuk ke PHI ini agak terganggu karena ada 2 demo pro cons kasus Sekjend PDI-P