Wednesday, November 12, 2008

Ini sebatas pengalaman saya sewaktu bekerja di beberapa perusahaan atau organisasi yang terdiri dari berbagai macam latar belakang orang di dalamnya. Saya pernah mempunyai atasan orang India dan orang Singapura (sebagai Presiden Director-nya) demikian juga pernah punya atasan orang Canada dan orang Amerika. Satu hal yang ingin saya jadikan topik dalam posting ini adalah bagaimana menghargai informasi yang datang kepada kita? Apakah informasi itu akan menjadi tugas dan tanggung jawab atau sebatas diterima kemudian dibiarkan saja? Pendek kata dalam konteks pekerjaan, informasi ini bisa berwujud berita, perintah, usulan, hasil kerja atau keluhan, dll bentuk. Sarana penyampaian informasi ini juga bisa melalui lisan, tertulis, via email, via internet, telepon atau didapat dari kolega sekantor, dll. Kesimpulannya : informasi dapat berasal dari sumber teknologi apa saja. Pengalaman saya bekerja di berbagai macam perusahaan ternyata memberikan pelajaran menarik mengenai arti informasi bagi seorang karyawan, baik itu staf, manajer atau bahkan direktur sekalipun. Saya pernah mengalami kepuasan terhadap kinerja para atasan atau staf yang selalu merespons informasi yang datang ke mereka. Tidak peduli informasi itu berasal dari siapa, namun yang harus digarisbawahi adalah : "mereka merespons informasi segera sebagai bentuk dan salah satu tanggung jawab pekerjaan dan juga awareness terhadap pengirim informasi".
Beberapa tahun lalu, saya selalu mengirim email kepada atasan yang ruang kerjanya bersebelahan dengan saya. Namun dalam kurun waktu yang cepat, atasan saya selalu membalas email tanpa saya perlu datang kepada dia dan memberitahu saya sudah email. Demikian juga setiap ada permasalahan yang menjadi bagian tanggung jawab pekerjaan, selalu disarankan kirim progress via email dan rapat diperlukan dalam kondisi mendesak. Usut punya usut, memang waktu kerja digunakan secara efektif karena tidak terbuang untuk rapat yang tidak penting. Demikian juga produktifitas seorang staf atau manajer yang harus banyak duduk, berpikir di belakang meja akan semakin meningkat. Contoh konkrit yang saya alami : salah satu direktur saya lebih menghargai pekerjaan yang saya laporkan via email, dan sesuai tugas dan fungsi seorang direktur, memang lebih banyak duduk di meja karena memikirkan bagaimana perusahaan maju dan sesekali turun ke lapangan. Namun ada juga perusahaan yang masih menggunakan sistem tradisional yakni mewajibkan karyawan bicara dulu masalah yang terjadi di perusahaan itu, kemudian hasilnya dilaporkan dalam email. Bicara perusahaan yang profesional dan bukan bermain politik ibarat di pemerintah, model seperti lobbying ini bisa saja diterapkan namun akan membutuhkan effort dan waktu. Yang jelas saya sekarang masih bisa menikmati situasi yang harus benar-benar apresiasi terhadap teknologi email ini. Big boss saya yang lulusan cum laude salah satu universitas terkenal di US, selalu menyapa saya "Hi you! Saya sudah terima emailnya ya, nanti kita bahas ..." Atau big boss panggil saya di ruangannya serta menunjukkan hasil kerja saya untuk dibahas selanjutnya. Atau mungkinkah persepsi teknologi itu masih berbeda-beda satu sama lain ya? Just curious ...

Tuesday, November 04, 2008

Senin 3 November 2008 ada suatu kebiasaan yang tidak kulakukan lagi seperti selama 2 tahun 1 bulan di 911 Nawakara. Kalau di kantor sekuriti ini saya biasa pakai uniform biru biru khas sekuriti dengan atribut khusus, kini kembali lagi jadi orang kantoran Sudirman yang bernuansa kebebasan. Yang pasti jarak rumah kantor yang pendek tidak serta merta ngantornya lebih cepat karena jalan alternatif yang ada pasti lebih macet seperti saat pulang kemarin malam, macet. Rute ku kini melewati kolong jembatan yang jika hujan deras suka banjir, untungnya body mobil yang kupakai lebih tinggi dibanding mobil lama.