Friday, September 25, 2009

Flash of Ramadhan

Tidak terasa sudah hampir setahun kerja di pabrik ini. Bulan September ini banyak pekerjaan yang terkait dengan masalah external yaitu persiapan menjelang lebaran yang sudah barang tentu banyak instansi yang memberikan senyum kepada pabrik gula semacam ini. Tidak etis saya sebut satu per satu dari mereka karena menyangkut jabatan seseorang namun yang pasti perusahaan sudah ikhlas memberikan kado sembako berupa gula pasir kualitas R2. Dimulai dari acara penyerahan sumbangan gula pasir kepada instansi-instansi dilanjutkan dengan kado sembako kepada warga sekitar pabrik. Yang begini saya ikut senang karena mendengar ucapan perwakilan warga yang sudah merasa bangga penduduknya memakai seragam pabrik dan menjadi karyawan pabrik ini. Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi dan yang penting, saya berdoa produksi pabrik meningkat dan biaya produksi juga lebih efisien.
Saya bekerja di hari Senin dan Selasa, 2 hari saat seharusnya pada libur. Tapi ini kewajiban, saya bisa bekerja dengan senang hati. Para Satpam pun juga bekerja seperti saya, toh dulu saya juga pernah ngerasasin bekerja di 911 Nawakara yang isinya Satpam semua. :-)

Monday, July 06, 2009

Hari Sabtu, 4 Juli 2009 adalah hari kemerdekaan Amerika Serikat. Demikian juga hari ulang tahun Kevin ke-2. Saya sudah email ke atasan di Jakarta kalo hari Sabtu ini tidak masuk kerja. Tapi sempat ragu-ragu karena Big Boss aka Babe-nya Owner perusahaan akan melakukan sidak di pabrik. Tapi akhirnya dapat solusi dengan delegate semua pekerjaan kepada tim HRD & GA di pabrik seraya memberi kepercayaan kepada mereka untuk bersikap bagaimana saat orang terpenting di group perusahaan datang. Buat saya hari jadi Kevin tetap menjadi prioritas karena sudah lama saya menjanjikan dia untuk dirayakan walaupun sederhana. Akhirnya istriku pesan tempat di Restoran Bumbu Desa, Jl. Tanah Abang II yang konon dimiliki oleh aktor Gunawan. Kata marketingnya ruang yang dipakai buat ultah ini adalah ruang VVIP hmm.. yah apa pun namanya, yang penting Kevin senang, acara berlangsung pun Kevin sudah nyari-nyari mikropon buat nyanyi walaupun di usia 2 tahun ini dia belum fasih bicara. Thanks God !

Monday, June 29, 2009

Profesionalisme dan pertemanan ...
Ternyata sulit juga mempercayai seorang teman (baca: kolega) yang dulu pernah 1 kantor dan kini menjadi rekanan bisnis. Kadang harus berani mengatakan tidak karena di saat kita harus bersikap profesional maka yang muncul adalah ya dan atau tidak. Saya merintis pekerjaan sejak lulus LPP tahun 1990, waktu itu kerja di Perkebunan Teh Citalahab Sukabumi, dan kini di tempat lain pun seiring dengan karir yang berubah maka saya bisa mencari rekanan bisnis sendiri. Alhasil karena atas dasar network pekerjaan sebelumnya dan keinginan agar dapat harga murah dengan mutu bagus, maka dulu pernah dapat rekanan baru yang benar-benar murah. Namun dalam perjalanan hari, ternyata saya harus menilai dengan obyektif semua yang menjadi partner bisnis di kantor. Seperti halnya saat saya memilih rekanan untuk urusan yang kecil-kecil di pabrik, saya sekarang harus tegas bahwa "friend is just friend, business is to be proffesional". Akhirnya saya harus bilang NO WAY dan profesionalisme itu tetap harus dijaga.

Tuesday, June 16, 2009

Politik organisasi, siapa kalah siapa menang ?

Saya tergelitik untuk posting tulisan ini setelah membaca berita BUMN yang sering gonta-ganti personil.
 
Ternyata berada di lingkungan dan tempat kerja baru tidak selamanya membuat seseorang stres. Justru karena teknologi lah yang membuat manusia tidak merasa jauh karena kehadiran internet dan teknologi komunikasi semakin membuat manusia tidak merasa kesepian. Di tempat kerja baru ini relatif tidak ada gejolak politik organisasi yang kasar dan saling sikut-sikutan. Saya sebagai petinggi di bidang HRD dan GA memberi kesempatan seluas-luasnya kepada semua karyawan untuk berprestasi dan secara alamiah mereka juga saya biarkan mencari jati diri. Ini mungkin salah satu ciri kepemimpinan saya yaitu demokratis karena kompetisi berlangsung secara fair. Jika ada karyawan menonjol maka saya akan hargai dengan pemberian reward baik ucapan atau angka. Sedangkan jika ada yang kurang menonjol maka saya persilakan mereka mencari solusi karena mekanisme di HRD dan GA ada proses pelatihan dan pengembangan. Tidak seperti yang terjadi di tempat lain, bisa jadi seorang atasan terlalu berani mencanangkan persaingan politik untuk berebut pengaruh dan prestasi namun mengesampingkan kinerja departemen atau diri sendiri. Pernah terjadi seorang pemimpin karena atas dasar sentimen dan merasa pinter maka berusaha menjegal koleganya sendiri atau menjelek-jelekkan kolega di depan forum. Yang lebih konyol lagi jika seorang pemimpin mempunyai power maka abuse of authority itu akan terjadi. Mending kalau si owner bisa dibohongi dengan kebijakan pimpinan di bawahnya maka abuse of authority itu dapat berjalan mulus. Namun Tuhan itu adil, siapa berbuat pasti akan menerima akibatnya. Boleh jadi orang getol ikut pelatihan kepemimpinan. Tapi tidak ada jaminan bahwa pelatihan yang dialami pekerja dapat merubah perilaku dengan cepat, saya kok percaya ya bahwa sifat manusia itu lama berubah.
 
Saya cuma bertanya apakah kita cukup malu jika abuse of authority kita ketahuan dan politik murahan dalam organisasi berakhir dengan mutasi walaupun masih dalam grup perusahaan ? Ini pernah terjadi di perusahaan saya bekerja saat ini, mutasi itu ternyata belum tentu kebaikan bagi karyawan. Tapi sebuah perusahaan yang dewasa tentu juga tidak ingin memecat karyawan yang sudah punya anak istri. Solusi yang diberi biasanya berlatar belakang kemanusiaan. Maklum hari gini nyari kerja susah. Dulu saya pernah nyombong mau diterima kerja dengan gaji 80 juta, tapi njawab 1 pertanyaan dasar saja tidak bisa :-) malu lah sama teman-teman di kantor. Jika saya diberi promosi atau mutasi namun sudah jelas semua orang mengakui itu sebagai buangan maka saya akan segera pindah atau nyari kerja lain. Karena yang saya sandang bukannya promosinya, tapi saya sudah kalah dalam politik organisasi. Ibarat partai, karena kalah dalam pemilihan, maka sah-sah saja saya pindah partai. Gaji bukan segalanya, saya pun punya anak buah yang sekarang jadi big boss. Tapi saya tidak pernah meremehkan dia karena dia bukan siapa-siapa saya lagi, yang ada saya harus mengatakan "si anu itu hebat apalagi setelah pindah dari sini" dan bukan mengatakan "alahh.. si anu itu cuman segini, saya tahu dia, kecil mah".
Ya beginilah, kalah berpolitik banyak orang semakin gila. Tidak di pemerintah, tapi di perusahaan juga sama. Cuma bedanya ada yang kepepet harus tetap tegar tapi orang lain sebagai penonton mentertawakan selamanya apalagi musuh-musuhnya yang berada di atas angin.